Showing posts with label whine. Show all posts
Showing posts with label whine. Show all posts

Tuesday, September 4, 2012

Sederhana

Milyaran poin dalam hidup yang membuat kita bahagia. Bahagia dalam arti luas, tak terbatas, dan dapat berlaku untuk siapa saja, dalam keadaan apapun juga. Namun bagi saya, sumber kebahagiaan itu sebenarnya tumbuh dari satu akar, yang berkembang, berdaun, berbunga, dan berbuah. Sesederhana itu, layaknya pohon beringin yang berawal dari akar, yang semakin tua semakin rimbun dengan daun-daun serta akar gantungnya.

Di balik itu, cukup banyak hal yang pasti membuat seseorang khawatir, sedih, dan merasa tidak bahagia lagi. Marilah kita simpan poin-poin itu sejenak, melupakannya dan menguburnya dalam-dalam, membiarkan semua hal itu terperangkap di suatu tempat yang kita sendiri pun akan lupa letak tepatnya.

Saya bertemu banyak orang baik di dunia ini. Ya, tidak usah jauh-jauh membicarakan seluruh dunia. Begitu banyak jumlah orang baik di dunia ini, yang saya yakin sangat jauh jumlahnya dengan orang-orang yang tidak baik (bukan orang yang jahat). Sederhana. Mereka membuat saya bahagia, membuat saya meredakan pemikiran negatif yang berperang di dalam otak saya, serta memusnahkan kekhawatiran yang terkadang membuat saya mengerang kesakitan di malam hari.

Mulai dari keluarga, teman-teman sekitar, teman-teman baru di kampus, pacar, beberapa orang yang saya temui di jalan, beberapa orang yang saya tanyai mengenai jalan menuju stasiun, siapapun itu. Sesederhana itu. Bertemu dan berinteraksi dengan mereka memberi saya ketenangan dan kelegaan tersendiri yang mendorong saya untuk semakin bersemangat dalam menjalani hari-hari saya.

Begitu sulit bagi saya untuk memberi penjelasan tentang hal ini kepada orang lain. Mungkin menulis adalah cara yang sangat tepat.



Monday, July 30, 2012

Leaving These Rice Fields

Photobucket

I'll be leaving in less than a month. Three weeks, precisely.

I'm flying to one of my favorite countries in the world, to one of those famous countries in Europe.

I am leaving.

It's sad. It's always hard to leave things behind for something new in life. It's never been easy for anyone to simply start a new thing in life. Nevertheless, starting a university life abroad is still remarkably interesting for me.

But I am leaving.
I am leaving my hometown, my family, my best friends, my boyfriend, my dog..

However, I've had my decision. I've chosen The Netherlands as my next destination to study, to dig for new lessons, and to try new things in life.
Some people might ask me why. Some people might tell me to stay, and tell me about things my country has already had, then keep telling me that going abroad wasn't even necessary.

But I've had my decision.

And I am a person who knows how to act according to my words.

Friday, July 20, 2012

Kerasnya Hati yang Menopang

Karena sesungguhnya langit kelabu tak pernah datang menghampiri mereka yang tak pernah peduli akan rasa, akan emosi jiwa yang seharusnya meluap-luap namun dapat lenyap begitu saja, atau bahkan mungkin tak pernah menampakkan diri. Langit kelabu enggan menyapa mereka yang terus berlari walau puluhan luka meninggalkan goresan tajam di permukaan kulit, yang melupakan apa itu rasa sakit. Katanya, mati rasa.

Sebab setiap insan yang bertanya-tanya mengapa dunia hanya memilih orang-orang tertentu untuk menikmati surga, terlalu bersusah payah mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka yang mempertanyakan syarat hidup kekal begitu repot mencari jalan keluar dari dosa dan nafsu akan gemerlap duniawi. Mereka yang ingin melarikan diri dari siksaan neraka tak pernah lelah beribadah sambil berurai air mata, menyebut nama Tuhan mereka dengan nada pasrah dan memelas.

Di sisi lain, mereka yang berjalan santai di tepi pantai, tak peduli kapan senja datang menjemput kebahagiaan mereka yang begitu nyata dalam hidup.

Tak pernah diri ini berpikir bagaimana cara menempuh jalan yang tak lurus dan tak berbelok ini.